Cukup 2 Kali (DiGembosi 2 Kali)

Sekali lagi PILPRES langsung telah dilaksanakan di republik ini. Hasil quickcount sudah banyak bermunculan di televisi. Sepertinya sudah hampir pasti bahwa pasangan incumbent akan kembali menduduki RI 1 meskipun kompetitor berteriak-teriak mengenai segala kecurangan yang terjadi. Saya hanya mencoba flashback ke tahun 2004 untuk nostalgia. Waktu itu pemilu legislatif partai pengusung Megawati memperoleh suara yang sangat signifikan. Namun ironisnya saat pilpres Megawati kalah dengan SBY yang hanya mengandalkan Demokrat dengan perolehan suara sekitar 7%.

Saya masih ingat waktu itu, masa kampanye calon legislatif begitu meriah, para caleg berlomba-lomba untuk menarik simpati masyarakat. Berbagai cara mereka tempuh dari menjanjikan sesuatu sampai membagikan sembako. Ibaratnya membersihkan selokan wargapun mereka rela. Namun giliran pilpres keadaan berubah. Kampanye yang dilakukan para caleg tidak segarang saat kampanye pileg. Kenapa? Karena
ereka sudah mendapatkan apa yang menjadi tujuan mereka. Saat ini hal itu terulang lagi bagi Megawati. Bahkan lebih tragis. Sangat ironis apabila mengingat pileg tempo hari yang nyata-nyata di Jateng dan DIY partai Demokrasi Indonesia Perjuangan diposisi pertama dengan suara yang sangat signifikan. Termasuk pada saat pemilihan gubernur di Jateng calon mereka menang telak satu putaran. Sangat ironis dalam quickcount sementara Megawati mendapatkan sekitar 30% di Jateng. Memang nuansanya begitu terasa berbeda saat kampanye pileg dan pilpres. Dikampun saya yang notabene basis kompetitor Demokrat, saat pileg berseliweran caleg-caleg yang berusaha mebuat komitmen dengan masyarakat. Dari meberikan sembako, safari dari rumah kerumah, membantu kerjabakti, sampai mengadakan jalan sehat dengan hadiah puluhan juta. Namun saat kampanye pilpres semuanya jadi adhem ayem. Tidak ada gerakan yang signifikan dari caleg yang sudah jadi untuk mencari dukungan suara buat Capres mereka. Dan hal ini berlaku untuk semuanya. Cuman Capres Incumbent punya keuntungan dengan situasi seperti ini. Karena jejak program-programnya masih akan diingat oleh masyarakat karena beliau ada di dalam struktur kekuasaan.

Dalam pilpres kali ini memang caleg yang sudah jadi juga sudah sangat capek dengan kampanye pileg tempo hari baik mental maupun materi. Sebab dengan sistem yang baru mereka harus mencari suara terbanyak untuk dapat duduk di lembaga legislatif, sehingga mereka betul-betul bekerja keras dan cenderung individualistik dalam meraih tujuannya. Tentu saja biaya untuk itu jadi semakin besar. Hal ini berpengaruh saat pilpres berlangsung. Disatu sisi mereka (caleg) sudah memastikan diri untuk duduk dilembaga legislatif dan disisi yang lain dia juga sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk itu. Sehingga untuk all out memperjuangkan capres mereka sudah kehabisan energi (atau memang sudah ogah-ogahan). Sebab dikampung saya sendiripun saya hanya melihat dua poster tidak terlalu besar capres mereka. Dan sama sekali tidak melihat gerakan yang signifikan seperti kampanye pileg tempo hari.

Namun terlepas dari semua permasalahan tersebut, masyarakat sudah terlalu cerdas untuk diiming-imingi, ditekan, ditakut-takuti, ataupun dibeli. Mereka sudah menentukan pilihannya, dan pilpres adalah pemilihan yang relatif bersih dari pengaruh kepentingan. Karena pemilih tidak berinteraksi langsung dengan calon. Tidak seperti pileg yang terkadang masyarakat merasa ewuh pekewuh saat ada warganya yang nyaleg meskipun tidak mempunyai track record politic yang indah. Sekali lagi HIDUP RAKYAT!!!