Calon Raja Baru

Seperti biasanya cerita dimulai dengan suluk…

Ceekk ceekk cek… Dhog droodhog dhog…

Oooooong…. Bumi gonjang ganjing, langit kelaap kelaaaap kaaaton… Oooonngg…

Kocap kacarita di negeri Ngestina yang sedang mengalami eforia demokrasi sedang ada pemilihan calon raja baru. Ya, semenjak rejimnya Raja Duryadana yang lalim runtuh oleh gelombang demonstrasi mahasiswa dan rakyat, raja tidak lagi diangkat berdasar aliran darah. Rakyat lebih memilih untuk melakukan pemungutan suara melalui pemilu untuk memilih calon rajanya. Kali ini adalah yang keduakalinya raja dipilih langsung oleh rakyatnya di negeri Ngestina.

Hari itu Semar sedang mencabuti rumput diluar padepokan. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh raungan sirine dan iring-iringan mobil yang super ‘kimpling’. Wheeee ladalah, sudah bisa ditebak. Selama ini memang siapapun yang ‘NYAJA’ (nyalon raja), selalu sowan kepadanya. Sebagai seorang waskitha dan selalu berdiri diluar sistem semar memang mempunyai banyak pengikut setia. Omongannya selalu didengar dan diikuti banyak orang. Sebagai tuan rumah yang baik Semar segera mempersilahkan tamunya masuk,” Mangga, mangga pinarak ndara Calon Raja junjungan kawula.” Gareng, mantan patih yang pecah kongsi dengan raja incumbent memang ingin menjadi raja berikutnya. Dia tersenyum. Dengan sedikit dipaksakan ia mencium pipi kanan kiri dan memeluk hangat sang begawan. Atraksi yang nyaris menjadi lagu wajib para pencari simpati. Gareng emang memutuskan menjadi yang pertama kali sowan Semar sang begawan. Seperti slogannya yaitu ‘kebat kliwat’, ia bersama calon patih pilihannya, Sentiyaki, mencoba mencuri start. Sentiyaki adalah mantan panglima perang yang akhirnya memilih pensiun untuk ikut ber-pat gulipat di ranah politik. Ini juga karena karirnya di keprajuritan sudah mentok.

Sebagai seorang waskitha, Semar mencoba menelisik lubuk hati calon orang nomor 1 dan 2 di negeri Ngestina ini. Penampilan tidak terlalu mengecewakan. Kalau dilihat cukup sehat. Pengawalnya serem-serem, berkacamata hitam selalu membatasi jarak bos mereka dengan lingkungan sekitar. Tangannya memdorong-dorong dan menunjuk-nunjuk muka orang yang terlalu dekat dengan bosnya. Semar menghela nafas. “Nakmas Gareng dan Sentiyaki. Ada apa gerangan sekalian rawuh di gubuk saya?” Begitu Semar memulai pembicaraan. Gareng yang menunggu sejak tadi segera memulai orasinya, “Begini begawan, kami berdua ini mencoba untuk merubah keadaan. Karena kami melihat pemerintahan tempo hari itu terlalu lambat dan tidak berani mengambil resiko.” Tidak ada respon dari Semar. Terlihat Semar masih menyimak apa yang diomongkan oleh calon raja baru ini. Gareng melanjutkan, “Selama saya mendampingi beliau, saya hanya selalu jadi bemper apabila ada kebijakan yang tidak populer. Tapi saya selalu berani mengambil resiko itu. Saya ini adalah seorang risk taker. Saya ingin mempercepat proses pembangunan negri ini begawan. Karena yang dibutuhkan saat ini adalah seorang yang cepat bertindak dan berani mengabil resiko. Ini semua adalah tipikal saya begawan. Untuk itu saya mohon restu begawan untuk mendukung dan menyampaiken pada masyarakat mengenai visi kami berdua. Kami sudah melakukan deklarasi ditugu Kamardikan untuk menunjukkan semangat kami yang berkobar-kobar dalam memperjuangken rakyat banyak. Kami mendaftarken diri ke panitia pemilihan yang bertama kali untuk menunjukkan kecepatan kami dalam mengambil keputusan, sesuai dengan jargon kami ‘kebat kliwat’. Kami mendaftarken diri dengan diiringi rebana dan tanjidor sebagai bentuk keberpihakan kami pada kearifan lokal. Kami berjalan kaki dalam mendaftarkan diri untuk menunjukkan bahwa kami dekat dengan rakyat. Dan sebagai tambahan sepatu yang saya pakai adalah buatan dalem negri begawan. Tidak perlu lagi diragukan kecintaan kami berdua terhadap negri Ngestina ini.” Semar ‘manthuk-manthuk. Namun bukan berarti setuju. Sebagai seorang yang disegani ia selalu menjaga perasaan orang-orang yang mencoba meraih simpatinya. Semar kemudian berkata arif, “Inggih nakmas Gareng dan Sentiyaki. Saya akan merenungkan apa yang panjenengan berdua sampaikan. Nanti akan saya sampaikan kepada masyarakat sesuai dengan persepsi yang bisa saya tangkap.” Dialog berakhir dan Gareng beserta rombongan berpamitan pulang.

Keesokan harinya seperti yang sudah diduga Semar, datanglah tokoh berikutnya. Petruk, sebagai calon incumbent datang beserta calon pati pilihannya, Begawan Durna. Sebagai calon raja incumbent, dia terkesan lebih tenang dan percaya diri. Tidak perlu diceritakan panjang lebar prosesi peluk cium, akhirnya dialogpun dimulai. Eh, lebih tepatnya orasi, soalnya hanya satu arah. Petruk pun mulai unjuk kebolehan, “Begawan, saya ini sudah dipercaya selama lima tahun memimpin di Ngestina. Dalam pemilihan lgislatip kemarin suara yang diperoleh partai saya menang telak dengan kompetitor yang lebih senior. Ini jelas menunjukkan rakyat percaya penuh dengan kepemimpinan saya. Sebagai seorang cendekiawan, saya selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Bukan lambat itu namanya. Semua keputusan itu harus dianalisis dengan cermat untung ruginya. Tentu saja buat rakyat. Kalau terlalu ‘kebat kliwat’ itu takabur namanya. Kami sudah membantu rakyat miskin melalui BLT, kami sudah mengadakan paket PNPM Mandiri, kami sudah berhasil mengatasi perpecahan negri ini. Lhah apalagi yang kurang. Maka sesuai dengan jargon kami, ‘Bacutken’, kami akan terus melanjutkan apa yang sudah kami perbuat untuk negri ini. Maka itu saya memilih untuk mencari pasangan diluar partai. Ini untuk menghindari ngeyelnya Patih yang merasamempunyai basis kekuatan akar rumput. Saya ingin stabilitas ekonomi yang kuat, maka saya memilih Begawan Durna yang sudah ahli dalam bidang ekonomi utnuk mendampingi saya.” Semar mengangguk dan tersenyum. Petruk merasa puas dan merasa kepercayaan dirinya berlipat-lipat. Keyakinannya untuk memenangkan kompetisi ini makin menebal. Ia melanjutkan, “Saya endeklarasikan diri dengan mengundang cerdik cendekia. Ini mencerinkan bahwa saya mempunyai task force yang sangat kompeten dalam menentukan arah kebijakan negri ini. Masyarakat bisa melihat bahwa pendukung saya adalah dari kalangan yang sangat terdidik. Maka dari itu mohon saya diberi restu dan sampaikan kepada masyarakat mengenai keseriusan saya dalam mensejahterakan negeri ini.” Petruk mengakhiri orasinya. “Oooo inggih nakmas Petruk, akan saya renungkan dan saya sampaikan kepada masyarakat sesuai dengan persepsi yang bisa saya tangkap. ROmbongan itupun berpamitan dengan perasaan optimis.

Selang satu hari datanglah kandidat yang ketiga. Mbakyu Sembadra dan Antareja. Mbakyu Sembadra pernah merasakan empuknya kursi nomor 1 di negri Ngestina. Ia ingin mencoba peruntungannya kembali. Dia memilih mantan senopati yang terpaksa kariernya tamat karena ada ontran-ontran tempo hari. Bukan itu saja. Calon patih yang dipilihnya mempunyai harta kekayan terbanyak yang akan menjamin proses logistik selama masa kampanye berlangsung. Seperti biasa mbakyu Sembadra tidak banyak omong. Kebiasaannya adalah tersenyum dan meneteskan air mata. Satu keahliannya lagi adalah berteriak ‘MERDEKA’ dengan suara yang jauh dari kesan heroik. Apalagi semenjak keputusannya untuk menggandeng Antareja sebagai wakilnya, otomatis yang sangat dominan berpidato adalah Antareja. Karena dalangnya sudah capek, acara berlanjut pada penyampaian visi. Dengan pakaian yang dimirip-miripkan dengan founding father Antareja mulai berpidato, “Begawan, saya ini prihatin dengan nasib orang-orang kecil terutama petani dan nelayan. Sebab mereka ini tidak pernah mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah. Saya bersama mbakyu Sembadra ingin melakukan perubahan. Rejim saat ini adalah antek imperialis yang hanya mementingkan ekonomi liberal. Apalagi dengan calon patih dia yang nyata-nyata antek Amerika. Itu hanya kan membuat rakyat kecil makin terpuruk dan hanya menguntungkan segelintir pengusaha saja. Kami sudah mendeklarasikan diri di Tumpukan Uwuh, yang mencerminkan keinginan kami untuk selalu dekat dengan mereka yang merasa terpinggirkan. Kami selalu pekikkan teriakan ‘MERDEKA’ untuk membangkitkan semangat rakyat. Kita harus bisa mengusung ekonomi kerakyatan. Kami sudah mengibarkan bendera raksasa untuk memperlihatkan keseriusan kami mempertahankan keutuhan negri (Kalau perlu dengan menculik aktifis, batin sang dalang). Masyarakat yang termarjinalkan harus kita angkat. Ekonomi kerakyatan harus menjadi soko guru pembangunan.” Dengan lantang dan berapi-api Antareja berpidato. Semar seperti biasa mangut-manggut dan tersenyum. Antareja kembali melanjutkan, “Untuk itu begawan, adalah hal yang tidak perlu diragukan lagi. Kami harap sampeyan mendukung kami dan menyampaikan kepada masyarakat tentang kesungguhan kami.” Inggih nakmas Antareja dan mbakyu Sembadra, akan saya renungkan dan saya sampaikan kepada masyarakat sesuai dengan persepsi yang saya tangkap. Kemudian mereka berpamitan pulang.

Setelah semuanya pergi, Semar duduk tepekur. Bagong dan Togog sebagai cantriknya juga tertegun. Memang sejak calon raja pertam sampai terakhir sowan, mereka berdua selalu mendampingi bosnya, Begawan Semar. Dengan emberanikan diri Bagong bertanya, ” Kados pundi Begawan? Panjenengan milih yang mana, kita ndherek?” Semar dengan gaya khasnya medhar sabdo, ” Weeeiii mbegegek hemel hemel sadulita. Le, Bagong dan Togok. Dari ketiganya tidak ada yang berbeda secara signifikan. Semua mengaku mewakili dan dikukung oleh rakyat. Semua mengaku akan memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Mereka akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk rakyat. Tapi satu hal yang membuat aku tidak nyaman le. Mereka kok saling menyindir. Saling menganggap bahwa calon lain mempunyai banyak kelemahan. Bahwa ia adalah calon yang paling tepat dan tanpa cacat. Mosok iya to le, wong urip kok tidak punya kelemahan. Tidak satupun diantara mereka yang mengaku mempunyai kelemahan. Lha ini khan akan menyulitkan rakyat jika mau mengoreksi atau memberi masukan. Lha kalau orang sudah merasa benar dan tidak punya kelemahan, lha piye le arep menerima kritik? Lak ya ngono ta Gog?” Togog yang terkantuk-kantuk jadi njenggelek. Wheh, begawan ki kakya pirsa nek aku ngantuka ta ya. Begitu batin Togog. Semar kembali melanjutkan, “Kalau setahuku orang pinter itu tidak pernah keminter le. Kalau orang bener itu tidak usah proklamasi bahwa dirinya bener. Kalau orang itu jujur tidak akan mengumumkan dirinya jujur. Itu sudah rumus alam le. Semua itu akan terlihat dengan sendirinya. Lha kalau semua ngakunya jujur, bersih, amanah, demi rakyat, cerdas, trus apa maneh? Lha brarti semua kandidat itu sama ta?” Bagong menyahut, “Lha mangsudnya sama itu sama-sama jujur atau sama-sama bohong begawan?” Semar merasa terpojok. Dengan diplomatis ia menjawab, “Aku nggak tahu isi hati orang lain le. Namun yang jelas seperti yang sudah tak sampaikan bahwa kita harus milih yang paling mau mengakui kelemahan diri sendiri dan mau menghargai peran orang lain. Lhah sepertinya kok tidak terlihat satupun diantara mereka.” Togog penasaran, “Lha trus milih yang mana begawan?” Semar berlalu sambil bergumam,” Kalau aku sepertinya tidak berubah…” Togog dan Bagong saling berpandangan, “Mingsih belum mau milih juga.” Lha nanti kalau lebih dari 50% gimana, wong kemarin saja sudah 40%. Byuuhh byuhh…

Bumi gonjang ganjing langit kelap kelap kaaaattton. Eeee….ngggg….