Universitas Semar Ngejawantah

Cek cek cek… Dhog drodhog dhog… Bumi gonjang ganjing langit kelap kelap kaaaatoonn…
Kocap kacarita, di sebuah pawiyatan luhur bernama Universitas Semar Ngejawantah sedang ada berita hangat. Semuanya membahas tentang Go Internasional. Semuanya membahas tentang perangkingan pawiyatan luhur.

Semar selaku pejabat di Universitas memberitakan dengan berapi api dan diliputi rasa bangga,” Mbegegeg hemel hemel sadulita. He bocah-bocah kabeh… Bagong mahasiswa, Petruk staff administrasi, lan kowe Gareng Staff Edukatif. Sekarang pawiyatan luhur kita benar-benar telah Go Internasional. Kita telah masuk rangking 2159 dunia versi webometrics dan sekarang sudah masuk 171 pawiyatan luhur di Asia versi THES. Apa tidak huebat hara? Bagong tidak mau ketinggalan unjuk gigi. Memperlihatkan kemampuannya berdiplomasi yang didapat dari pelatihan demo tiga hari yang lalu, dengan kurang sopan sampai liurnya muncrat kesana kemari. Tipikal aktifis mahasiswa yang selalu ngomong dengan keras seperti takut bahwa pendengarnya adalah budheg semua. Itupun masih dikatrol dengan megaphone, byuh byuh… Seperti biasanya omongnya agak groyok dengan tangan yang sedikit gemetaran memegang megaphone ia nyerocos,” Wheh wheh wheh… Ya huebat itu Rama Semar. Tetapi apakah itu adalah tolok ukur keberhasilan sebuah lembaga pendidikan ta? Setahu saya sebuah pawiyatan luhur itu bertanggungjawab untuk ikut mencerdasken bangsa dan negara. Sehingga lulusan dari pawiyatan luhur kita nantinya menjadi manusia-manusia unggul yang berakhlak mulia yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini. Ada yang menjadi pegawai kantor seperti kang Petruk, ada yang menjadi dosen seperti kang Gareng, ada juga yang bisa membuka lapangan pekerjaan di sector swasta, lak ya ngono ta rama Semar? Saya kok jadi khawatir, sekarang ini kegiatan untuk mengejar berbagai ukuran perangkingan itu kok seperti menjadi prioritas utama. Jangan-jangan para waskitha seperti kang Gareng malah lupa untuk membuka cakrawala pemikiran kami, untuk dapat menyerap kawaskithan yang dimiliki kang Gareng dan kawan-kawan. Dengan banyaknya program D3 ditambah dengan program sertifikasi guru saja rasanya kita jadi semangkin keteteran dalam menyerap kepinteran para waskitha.”. Bagong mengakhiri pidatonya dengan mengelap bibirnya yang ujung kanan kirinya menyentuh kuping.

Dengan sedikit keminter Petruk yang baru bekerja di pawiyatan tersebut selama tiga tahun dan ahli komputer juga ikut urun rembug,” Lho lho ya tidak bisa begitu ta Gong. Perangkingan itu kita tempuh untuk mendapatkan pengakuan dunia. Atas eksistensi kita. Atas kepinteran kita. Atas keberhasilan kita ikut berperan mencerdaskan bangsa dan negara, kalau perlu seluruh dunia. Ini dibuktiken dengan banyaknya karya-karya kang Gareng dan teman-teman yang sudah diterbitkan secara internasional. Sekarang ini jaman computer. Semua harus online, untuk mempercepat pekerjaan dan transparansi. Sehingga akan tercipta iklim kerja yang efisien dan akuntabel. Lhah ujung tombaknya ya orang-orang muda progresip seperti saya ini. Tanpa saya semua system tidak akan bisa jalan Gong. Ngertia kowe!!! Tidak seperti mbakyu Sembadra kae, wong pimpinan kok tidak bisa computer. Njut piye nyambutgawene? Apa kata dunia? Apamaneh Togog kuwi, Pegawe digalaki tuweke thok. Sudah tidak bisa apa-apa tekane telat mulihe risik njaluke dibayar utuh. Lha wong terminalan disemprit mangkat kabeh. Lak nggih ngoten ta rama Semar?”

Lhah Togog mak prempeng abang ireng. Dia sudah merasa lama mengabdi di situ sebelum orang-orang keminter ini dating ngesuk Togog dan kawan-kawannya. Dengan sedikit groyok karena marah ia menyela,” Lho lho, sik sik Truk. Omonganmu kok tak rasak-rasakke ngabangke kuping. Aku itu kerja disini sudah 20 tahun sebentar lagi pension. Sebelum kamu bisa ngomong teteh itu aku dan kawan-kawan sudah mengabdikan diri sejak gaji pegawai itu habis untuk makan satu minggu. Bukan salah kami waktu itu masih jarang computer karena mahal. Bukannya kami tidak mau belajar, tapi omonganmu itu yang membikin kami jadi males untuk belajar. Kami sengaja minggir untuk memberi ruang kepada kalian mengekspresikan keahlian kalian. Kamu masih butuh pengakuan, kami sudah tidak butuh itu. Kepentingan kami adalah bagaimana anak-anak kami dapat memperoleh pendidikan yang layak dengan biaya murah. Lha kalau omonganmu puedhes begitu, apa orang-orang seperti kami ini mau dipecati kabeh? Kok sepertinya kami ini tidak mempunyai peran apapun. Kami juga butuh dihargai.”Sepertinya masih banyak yang mau diungkapkan Togog mewakili pegawai generasi tua, namun Gareng sebagai staff edukatif dengan sok bijak menggurui,” Wis wis, kalian semua blas tidak intelek. Saya sudah mengabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari ilmu di luar negeri. Saya jadi pusing saat bekerja dengan kalian. Saat saya diluar negeri itu semuanya serba teratur, tersistem dengan baik. Tidak ada mekanisme kerja yang semrawut seperti ini. Disana itu ilmu kami begitu dihargai, tidak seperti disini. Mongsok mbimbing skripsi honore cuma sak kethip. Lhah gimana mau professional kalo caranya seperti itu. Terpaksa kami mencari proyek lain supaya penghasilannya bisa menjadi layak sesuai dengan kawaskithan kami ya toh?” Whadhuh lakok malah membela diri alias pledoi. Kalau seperti ini terus yang benar siapa? Begitu gumam rama Semar.

Kemudian Semar menengahi dengan bijak,” Eeee… mbegegek hemel hemel sadulita… Sudah, sudah. Cukup. Ora perlu padha padudon rebut bener. Kalian semua benar, tapi ya jangan terus menganggap paling benar. Itu takabur namanya. Le, Bagong. Kamu sebagai mahasiswa ya bener bahwa kita bertanggungjawab untuk meminterkan kamu semua sehingga jadi orang yang cerdas dan beraklhakmulia. Kita tetep komit untuk itu. Bagaimanapun juga tanggungjawab kita sebagai lembaga pendidikan milik pamarentah. Akan tetapi kita juga butuh dukungan kalian. Aja dumeh mulutmu ambane sampai kuping terus nek njeplak sakkarep-karepmu dhewe. Kalau ada perbedaan persepsi mari kita diskusikan bareng-bareng. Sampaikan aspirasimu dengan santun. Tidak perlu bengak-bengok ning ra cetha maksude. Niscaya akan kami dengarkan le. Sampaiken kepada kawan-kawanmu.

“Buat Petruk, saya tahu kamu memang ahli teknologi. Namun kamu tidak bisa bekerja sendiri. Kamu harus menghargai orang yang lebih tua. Mereka sudah mengabdi sejak gaji mereka belum bisa untuk beli susu anaknya. Bahkan mereka harus nombok untuk naik bis. Semua itu punya peran le. Lha wong Gusti Allah itu menciptakan kutu saja ada gunanya kok, apalagi manusia. Ajak mereka belajar pelan-pelan, dengan bahasa yang enak ditelinga. Aja dumeh. Sebab wong sing rumangsa pinter itu malah bukan orang pinter lho le. Mbakyu Sembadra itu sudah ditataran policy maker, jadi ya jangan kamu paksa untuk paham computer seperti kamu. Akan tetapi tidak ada salahnya kamu ajak belajar sesuai dengan kebutuhan beliau saja.”

“Buat kamu Togog, tidak usah emosional. Kamu harus menyadari bahwa jaman sudah berubah. Kami tidak akan pernah mengabaikan pengabdianmu selama ini. Tapi alangkah baiknya kamu belajar sedikit demi sedikit. Agar tidak terlalu jauh tertinggal dengan anak-anak muda sekarang. Tidak ada salahnya sekarang ini kebo nusu gudel. Tidak perlu malu. Tidak perlu gengsi. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Sunan Kalijogo saja yang tilas garong bisa jadi wali, mosok kalian tidak bisa menguasai MS Word. Termasuk sampeyan mbakyu Sembadra, coba belajar sesuai dengan kebutuhan sampeyan. Sehingga tidak terlalu bergantung kepada orang lain. Masak menghidupkan laptop saja gembrobyos, kok kaya makan sambel balado wae. Lha wong computer metu screen savere kok malah mlayu tulung-tulung wek e e e…

“Lhah sing terakhir, sliramu Gareng. Sliramu itu adalah tulang punggung, backbone dari pawiyatan luhur ini. Berhasil dan tidaknya proses pencerdasan ada dipundakmu. Sebagai resi, sebagai empu, sliramu wajib untuk bisa menularkan bahkan memberikan lebih dari yang kamu mampu, sehingga Bagong dan kawan-kawan bisa menjadi manusia unggul dan berkualitas. Kamu wajib membuat penelitian ilmiah, akan tetapi jangan sampai melupakan kewajiban utamamu sebagai resi yang mempunyai begitu banyak murid yang harus kamu didik. Kamu tidak perlu pidato mengenai luar negeri, implementasikan yang baik dari luar negeri kedalam institusimu. Tebalkan idealisme. Pupuk rasa pengabdian seperti halnya ibu Muslimah yang berhasil mencetak lascar pelangi. Kami belum bisa menghargai kawaskithanmu dengan layak, untuk itu kami tidak melarang kalian untuk mroyek. Akan tetapi kami saya minta tolong titip murid-muridmu yang cemerlang ini untuk kamu poles menjadi intan berlian.”

“Terakhir untuk semuanya. Tolong untuk saling menghargai, saling melengkapi. Tidak ada yang ditinggal akan tetapi saling mendorong. Tidak ada yang saling membuat marah, akan tetapi saling memberi motivasi. Ingat sekecil apapun semua elemen mempunyai peran. Ibaratkan kalian itu seorang manusia, dan kamu sedang mengikuti lomba lari. Kamu tidak akan meninggalkan salah satu kakimu kalau tidak ingin tersengal-sengal engklek. Tidak akan meninggalkan salah satu tangan untuk keseimbangan, kecuali ingin kejlungup, dan tidak akan meninggalkan dua mata kalau tidak ingin nubruk cagak thing. Kita akan tetap berusaha mendapatkan pengakuan atas eksistensi kita di pentas dunia. Akan tetapi kita juga akan tetap melaksanakan kewajiban kita mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga orang dengan otak brilian yang tidak mampu beli laptop tetap bisa sekolah ditempat kita. Kita ciptakan budaya kerja yang efisien dan akuntabel dengan tetap menghargai satu dengan yang lain. Tidak ada yang merasa paling penting, tidak ada yang merasa paling pinter, tidak ada yang merasa paling jujur. Semuanya melebur menjadi satu gelombang air bah yang akan membanjiri otak setiap manusia dengan ilmu yang berguna.”

“Wis ngger sudah terlalu panjang aku berkhotbah, semoga kalian tidak jenuh mendengarkan. Laksanakan tugas kalian masing-masing dengan penuh tanggungjawab, aku tak semedi mencari wangsit.”

Bagong, seperti biasa nylemong,” Wangsit sepakbola apa wangsit bola voli rama?”
Cek cek cek… Droodhog dhog dhog…