nyontreng 2009

Pemilu legislatif telah dilaksanakan. Hasil quick count sudah kita dapatkan. Hasil setiap lembaga paling berselisih tidak lebih dari 1 persen. Dan seperti yang sudah-sudah… Yang merasa targetnya tidak terpenuhi tidak bisa berlapang dada. Dengan dalih yang sangat klise, mereka dicurangi. Alasan yang jamak dipakai setelah kita memasuki masa reformasi.

Secara pribadi saya mengucapkan selamat kepada mas Agus DP. Congrats mas, partai anda menang telak menurut lembaga survai. 40 % khan? Fantastis. Namun hal ini juga dipengaruhi masalah teknis yang cukup rumit buat orang awam maupun new voters. Saat saya datang ke TPS dikampung, kebetulan banyak bertemu dengan pemilih dengan usia diatas 55 tahun. Hampir semuanya mengeluhkan hal yang sama. Ribet, Ruwet, Bingung. Jangankan untuk membaca nama caleg yang harus memakai kaca pembesar, kalau sudah terbacapun banyak diantara mereka yang tidak mengenal caleg yang tertera. Yang lebih lucu saat harus memilih anggota DPD, banyak diantara mereka ‘grenengan’ milih yang paling cantik he he he… Ada lagi yang sempat menggambari kartu suara. Makanya jadi antrinya lama banget. Ada yang menulisi ‘ora butuh’, ‘ora sudi milih’, atau yang agak kreatif memberi kumis atau kaca mata di gambar calon DPD. Salahkah mereka? Saya pikir tidak. Hal ini mencerminkan betapa masyarakat sudah begitu jenuh dengan pemilu yang terlalu sering dan bertele-tele. Sebaiknya hal ini menjadi bahan instrospeksi petinggi parpol untuk menepati janji mereka saat kampanye. Sederhanya, jujurlah…

Terlepas dari berbagai masalah teknis yang dihadapi, sudah saatnya petinggi parpol bersikap seperti layaknya orang dewasa yang cerdas dan bijak. Bukan seperti anak kecil yang merasa bagian permennya lebih sedikit dari adiknya. Selalu berdalih demi rakyat akan menempuh resiko apapun untuk menuntut keadilan. Bosen… Tanpa kedewasaan para petinggi parpol dalam bersikap, didalam kultur masyarakat yang masih cenderung paternalistik akan embela habis-habisan apa yang diklaim oleh ‘raja’ ataupun ‘ratu’nya sebagai sebuah kebenaran. Ini sangat berbahaya dalam iklim demokrasi yang sedang dibangun.

Sudah saatnya memberikan sebuah tontonan yang elegan dan mendidik masyarakat akan pentingnya etika mengakui kelemahan dan berintrospeksi untuk memperbaiki diri. Sudah saatnya budaya mengklaim kebenaran direduksi dengan sikap membuka diri. Kepada para CALEG yang belum kesampaian ‘tidur’ disenayan agar tidak usah stress, sejenak berkontemplasi. Merenung, apakah memang sudah pantas ‘mengaku’ mewakili rakyat.

Rakyat sudah menentukan pilihannya, perbedaan pilihan tidak perlu membuat kita saling menuding, saling melotot, dan saling hujat. Saatnya mengakiri sebuah pertandingan sepakbola yang cantik. Yang kalah mengucapkan selamat kepada pemenang, saling berjabat tangan dan bertukar kaos. Warna-warni bendera sudah melebur menjadi sang DWIWARNA kebanggaan kita.

Applause untuk seluruh rakyat, termasuk mas AGUS DP dan kawan-kawan he he he…