Rebometrics, eh’ Webometrics dalam Semangkok Wedang Ronde

Di awali perasaan cemas bahwa semua mata tertuju pada rombongan si Rebo. Saya mengatakan rombongan untuk memperhalus sebagian orang yang mengatakan gerombolan, he he he… Karena tidak semua perhatian itu adalah dukungan atas apa yang coba kita lakukan. Sebagian ada yang bersiap untuk menunggu sebuah kegagalan, dan akan bersorak kegirangan apabila hal itu terjadi. Namun, ya itulah resiko sebuah pertandingan (tanpa akhir). Kita terjebak dalam gelanggang yang tidak akan pernah berakhir. Sebuah kompetisi meraih deret angka yang terkecil, yaitu webometrics. Ada kecemasan yang menggelayut dibenak kami. Mungkinkah? Selalu hal itu yang menghantui kami. Dari sebuah kecemasan bergulir menjadi sebongkah tekad untuk mengerahkan daya agar pertandingan ini bisa terus kita ikuti (bukan untuk menyelesaikan). Tidak ada secuilpun kemungkina bahwa pertandingan ini akan selesai. Dari sebongkah tekad menjadi berbongkah-bongkah upaya untuk dapat mewujudkan tekad tersebut. PDR meeting room di Laras Asri menjadi saksi perdebatan alot kita mengenai apa yang akan kita lakukan.

Setelah berdebat berjam-jam, rombongan si Rebo mencoba mencari different view dengan menikmati semangkuk wedang ronde di Pasar Salatiga. Saat yang lain sudah mulai menikmati wedang ronde, saya masih terpaku. Mengamati semangkuk wedang ronde ‘kemebul’ yang ada di hadapan. Saya mencoba beberapa spot dan mulai mengabadikan semangkuk wedang ronde tersebut. Belum tahu, apa yang akan saya peroleh. Saya amati gambar wedang ronde tersebut. Ternyata persis pertandingan yang kita ikuti, webometrics. Webometrics dalam semangkuk wedang ronde? Ya. Dalam semangkuk wedang ronde ada beragam rasa yang terdiri dari gurih, manis, dan agak pedas. Dengan bermacam tekstur, kemriyuk, kenyal, dan cair. Saat semua itu melewati mulut, kita nikmati sesaat, kita telan menuju ke pencernaan, menjadikan energi kehangatan yang menjalar. Kehangatan yang membikin seluruh elemen tubuh bergairah untuk melepaskan diri dari kebekuan. Demikian juga perjuangan kita di webometrics. Membayangkan semua elemen, baik gurih, manis, pedas, kemriyuk, kenyal, dan cair yang ada di universitas berkolaborasi hingga menghasilkan energi kehangatan. Yang akan melepaskan kita dari kebekuan pemahaman. Bahwa webometrics bukan pertandingannya PUSKOM. Webometrics pertandingannya Sutanto cs. Webometrics adalah satu dari sekian banyak kompetisi yang harus kita lalui bersama untuk memperoleh pengakuan. Bahwa kita memang layak berada di World Recognized University.

Juli-Desember 2008 sangat jauh berbeda situasinya dengan Januari-Juli 2009. Juli-Desember 2008 kita datang sebagai kuda hitam, yang tidak satupun lawan kita memperhitungkan kekuatan kita. Kita bisa melakukan sesuatu yang membuat seluruh lawan terkaget-kaget. Sekarang adalah gelanggang terbuka. Mereka sudah paham dan memperhitungkan benar kekuatan kita. Tanpa memicingkan mata sedetikpun mengamati apa yang kita perbuat. Mereka sudah mempersiapkan betul dengan merekrut pemain, pelatih, manajer, sponsor, dan ribuan supporter.

Kita harus pertahankan energi kehangatan wedang ronde ini. Gairah melepaskan dari kebekuan. Kita akan bertanding. Jadikan perpustakaan sumber referensi dan publikasi akademik yang ideal di internet. LPPM menjadi rujukan penelitian ilmiah di dunia maya. Web Fakultas maupun unit kerja dapat memaksimalkan visibility, size, rich files, dan scholar information. Niscaya si Rebo tidak akan kehabisan energi. Saat semua komponen yang terlihat di dunia maya sedah berjalan sebagaimana mestinya…fuzz. Kita dapat mengalirkan energi kehangatan wedang ronde ke strategi yang lain.

Ingat, kita sudah terlanjur masuk dalam gelanggang. Dan sayangnya pertandingan ini tidak akan pernah selesai. Pemenang akan datang silih berganti. Si Rebo tidak akan mudah patah arang. Si Rebo tidak akan menyerah. Meskipun dengan raket tanpa senar. Meskipun dengan bola tanpa gawang. Namun semua itu sangat bergantung dukungan dari seluruh pemain, manajer, pelatih, sponsor, dan penonton.