Demam Sertifikasi… (Balada Mas Wulang)

Mas Wulang sudah dari kecil ingin menjadi guru. Ia terkesan dengan Bu Tri, guru kelasnya saat dikelas 2 SD di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Sekarang mas Wulang kuliah disebuah perguruan tinggi ternama, tentu saja mengambil kuliah di Fakultas Pendidikan seperti yang diidam-idamkan. Sekarang ini sudah semester 10 atau tahun kelima dia kuliah. Maklum agak lemot.

Suatu hari mas Wulang sengaja berolahraga dikampus. Maklum hari Minggu, jadi libur. Kebetulan minggu kemarin barusan pulang memeras orangtua untuk bekal 2 minggu. Asumsi mas Wulang kampus akan sepi, paling-paling bapak-bapak yang kuliah Pasca Sarjana sebagian ada yang beraktifitas. Saat berlari kecil menyusuri pavingblok yang tidak pernah rata sempurna karena terlindas roda truk proyek, mas Wulang terhenyak. Ternyata fakultas tempat dia menuntut ilmu sangat ramai dengan aktifitas. Berseliweran beberapa orang setengah baya dengan seragam putih gelap berdasi saling berdiskusi dan kadang bercanda satu saa lain.

Mas Wulang berhenti dan memberanikan bertanya pada pak Satpam yang sudah hafal dengannya (saking lamanya kuliah). Teapi rnyata ada kegiatan sertifikasi guru. Mas Wulang kemudian duduk sambil menghela nafas yang tinggal seperempat karena dihajar nikotin berlebih. Mas Wulang tercenung membayangkan perjalannya dalam menempuh pendidikan.

Dulu saat awal-awal kuliah dia begitu terpesona dengan kesederhanaan para dosen yang memberinya banyak inspirasi. Dengan penampilan yang bersahaja, berbaju lengan panjang yang digulung sebatas siku, selalu tampil dengan wajah teduh penuh kewibawaan. Sangat renyah dan enerjik saat memaparkan materi kuliah diselingi diskusi-diskusi yang mencerahkan. Kadang mas Wulang juga sedikit prihatin saat mengetahui bahwa penghasilan beliau-beliau ini jauh dari proporsional bila dibandingkan dengan tenaga pendidik di negara tetangga. Tetapi ada semangat yang tetap menyala-nyala untuk membuat anak didiknya lebih pintar dari dirinya. Motivasi-motivasi yang semakin memantapkan mas Wulang untuk menjadi seorang pendidik, yang tidak saja bisa menjadi penopang ekonominya kelak, namun juga sebagai ladang tempat dia mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

Namun, belakangan ini mas Wulang melihat nuansa yang berbeda. Dia melihat para dosen yang biasa berdiskusi dengannya menjadi sangat letih. Wajahnya penuh ketegangan tetapi dengan penampilan yang sedikit dipaksakan terlihat segar. Dengan baju lengan panjang yang dikancingkan rapi, berdasi, dengan sepatu hitam mengkilat berjalan melalui koridor kampus dengan menjinjing notebook kecil. Bahkan masih perlu dilengkapi dengan hape communicator baru disabuknya. Terlihat sibuk, lelah, dan sedikit tegang. Bahkan mas Wulang sudah tidak bisa membedakan dengan manajer sebuah leasing dimana dia mengambil kredit sepeda motor. Konon ceritanya beliau-beliau ini tidak mengenal hari libur. Waks… Mas Wulang teringat ketika mau konsultasi skripsi yang belum beranjak dari bab 2 selama 6 bulan ini. Dulu menemui dosen begitu mudah, asal datang dijurusan pasti ketemu, namun sekarang… Beliau punya kantor banyak sekali. Kadang mendapat jawaban… “O pak Anu sedang dilembaga ini, o pak Anu sedang di Pusat itu, o kalau jam segini sedang di Komisi sana… dan masih banyak lagi kantor-kantor yang memberi tugas pada pembimbingnya. “wah, ya seperti ini kalau orang yang pinter, semua kantor membutuhkan sumbangsih pemikiran beliau.” Begitu batin mas Wulang untuk mendinginkan batinnya yang kemrungsung.

Begitu lain hari dicari… “O beliau sedang menjadi assesor di kota A, o ini sedang ada kegiatan imersi di kota B, ehm kalau minggu besok harus ke kota C untuk membantu perumusan kurikulum RSBI.” Waks… mas Wulang serasa mau nangis… “Wah isih luwih gampang nyolong kayu jati, tinimbang nggoleki dosen.”Batin mas Wulang. Akhirnya mas Wulang memberanikan diri menelpon hape pak dosen setelah mendapatkan nomornya di Tata Usaha. “Mohon maaf pak, saya Wulang. Bapak wonten wekdal untuk menerima saya mbenjang menapa?” Mas Wulang memberanikan diri bertanya setelah memperkenalkan diri. Bahasanya jadi sedemikian kacau karena perasaan takut telah mengganggu kesibukan beliau. “Ehmm… saya ini masih di kota A 3 hari terus langsung ke kota B 2 hari. Mungkin minggu depan hari Senin ada waktu 30 menit sebelum saya berangkat ke kota C 3 hari.” Pak Dosen memberikan solusi. “Hah!” Mas Wulang terhenyak.
Sudah sedemikian sibukkah beliau-beliau ini? Anggota DPR saja ada masa reses. Akhir kata mas Wulang mengiyakan dengan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Alhasil hari Senin minggu berikutnya mas Wulang datang agak awal untuk menemui pak dosen tersayang. “Blaik!!” Dibangku depan jurusan sudah berjejer 8 orang dengan wajah lesu menunggu kehadiran seseorang. Dengan berharap asumsinya keliru mas Wulang membuka percakapan,”Menunggu siapa mas, mbak?” Seperti sudah diduga jawabannya adalah yang tidak diharapkan mas Wulang. Mas Wulang lunglai. 30 menit untuk 8 orang…

Mas Wulang terhenyak dari lamunannya saat klakson berbunyi nyaring dibelakangnya. Ternyata dia menghalangi sebuah sedan mengkilat yang mau meninggalkan tempat itu. Dari balik silaunya kaca mobil mas Wulang melihat wajah yang tidak asing baginya melempar senyum. Pak dosen pembimbing. Mas Wulang melanjutkan berlari kecil menyusuri paving blok menuju kos-kosan. “Tidak salah untuk berpenampilan bak eksekutif, tidak salah untuk mempunyai mobil engkilat, dan tidak salah untuk meningkatkan taraf ekonomi menjadi lebih dari cukup.” Batin mas Wulang.  Masih teruntai harapan, semoga penampilan elegan, mobil mengkilat, penghasilan yang lebih dari cukup, beragam kegiatan sertifikasi, serta semakin sibuknya para dosen adalah mengindikasikan peningkatan kualitas pendidikan dinegeri ini. Semoga…