Susah menjadi orang baik? (Balada Pak Paeran Swargi)

Kisah ini kembali terngiang saat saya wedangan di tempat pak Sakir depan TBS. Dengan tiba-tiba dua sepeda motor berlawanan arah, yang stu mau berbelok kearah TBS bertabrakan dengan keras dengan sepeda motor dari arah Sekarpace. Lama orang hanya berdiri mengamati. Baru setelah sekitar 5 menit, beberapa orang saling mengajak untuk menolong barulah berbondong-bondong orang mendekat untuk memberikan pertolongan.

Saya jadi agak memaklumi saat mereka saling menunggu untuk memberikan pertolongan, karena saya teringan peristiwa pak Paeran swargi. Beliau adalah tetangga saya yang sudah uzur, dan hanya bekerja serabutan kalau ada yang menyuruh. Mohon maaf beliau sudah meninggal saat ini. “Nyuwun sewu mbah, kula nyritakke panjenengan.” Beliau adalah orang dengan tingkat empati yang sangat tinggi meskipun dalam kehidupan yang sangat sulit. Selalu memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan beliau kepada siapapun.

Suatu hari dengan sepeda onthelnya mencoba mencari peruntungan. Saat menyusuri jalan raya di Tugu Cembreng, tiba-tiba seorang ibu-ibu dengan sepeda motor ditabrak mobil yang kemudian melarikan diri (tabrak lari). Dengan penuh empati Pak Paeran menolong ibu tersebut, menggotong ketepi jalan. Karena dalam keadaan tidak sadar, beliau meminta bantuan beberapa orang yang kebetulan ada disekitar tempat kejadian. Sesaat kemudian Pak Polisi datang. Keadaan memang semrawut karena banyak yang kemudian mendekat untuk ‘menonton’ kejadian tersebut.

Setelah dimintai keterangan secukupnya oleh polisi Pak Paeran memutuskan tidak mencari pekerjaan dan kembali kerumah. Sorenya… beliau kaget bukan kepalang saat ada 2 orang polisi meninta ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan tambahan. Tapi karena beritikat baik Pak Paeran mengikuti kedua polisi tersebut. Sampai dikantor polisi… Masya Allah… Ternyata si ibu yang kecelakaan mengaku kehilangan kalung emas seberat 5 gram. Entah benar atau tidak polisi mencurigai Pak Paeran. (Apa karena beliau miskin?) Melalui interogasi yang panjang akhirnya Pak Paeran terpaksa harus menginap di kantor polisi (tentu saja tidak diruang kepala polisi seperti mas Ananda) dengan alasan pemeriksaan belum selesai. Kasihan…

Paginya beberapa warga kami beserta pak RT dan pak RW membesuk ke kantor polisi dan berusaha meyakinkan bapak-bapak yang berwenang mengenai keseharian Pak Paeran. Namun memang salah satu tugas polisi adalah tidak mempercayai siapapun. Kami tidak menyalahkan mereka… Tapi sungguh naif apa yang dialami Pak Paeran. Akhirnya proses interogasi berlangsung selama 3 hari, dan Pak Paeran diperbolehkan pulang karena memang tidak terbukti.

Selama 3 hari tekanan psikis yang dihadapi beliau tentu sangat berat. Semoga tidak membuat orang menjadi takut untuk berbuat baik. Ini adalah tantangan bagi kita semua, bahwa untuk berbuat baik tidaklah mudah. Bung Karno mengabiskan separo hidupnya dipenjara untuk memerdekakan kita, Nelson Mandela hampir seluruh hidupnya dipenjara untuk persamaan ras, Martin Luther King tewas diujung bedhil untuk membela minoritas.

Tidak pernah salah untuk berbuat baik. Hanya tidak semua bisa memahami niat baik…