PILKADA, libur atau tidak?

Hari Senin, 26 April 2010 mas Petruk gedandapan berangkat ke Kantor. Diluar rumah sudah banyak tetangga yang mau berangkat ke TPS. Ya, hari ini adalah pesta demokrasi di kota tempatnya nglemboro mencari nafkah sebagai PNS. Melihat Mas Petruk tergopoh-gopoh berpakaian nyetil Pakdhe Togog yang mau ke TPS bertanya,” Mau ke TPS kok nyetil to mas, menghargai pesta demokrasi ta?” Wooo mboten pakdhe. Kantor saya tidak libur, karena kan bukan dibawah pemerintah daerah tapi dibawah pemerintahan pusat. Hanya diberikan waktu kepada yang mau menggunakan hak pilihnya tetapi harus tetap masuk seperti biasa. ”Mas Petruk menjawab diplomatis sambil berlalu dengan motor bututnya. Sayup-sayup dia mendengar Pakdhe Togog ngedumel dibelakang, “ Wooo lha nek seperti itu besuk kalau mati minta dikuburkan dipemerintahan pusat sana saja, wong kok nggak perduli lingkungan! Perintah Gubernur kok tidak dianggep. Arogan!!!” Mas Petruk nggragap, “Weladalah…” Tapi tetap memacu motornya karena sudah hampir jam setengah delapan.

Sampai dikantor mas Petruk masih tercenung. Mencoba memahami apa yang baru saja dialami. Ternyata tidak mudah membuat orang lain untuk memahami diri kita. Tiba-tiba mbah Semar koleganya yang sudah mau pensiun memasuki ruangan. Biasanya memang setelah datang absen, mbah Semar selalu menyempatkan untuk sarapan di warungnya mbok Jum. “Wah, kebetulan mbah, saya mau ngudarasa.”Begitu mas Petruk mengawali pembicaraan. “Woooeeiii, mbegegeg, hemel hemel, sadulita. Ada apa gerangan cah bagus?” Dengan gaya khasnya menanyakan kepada mas Petruk. Mas Petruk dengan gaya seperti anggota pansus menceritakan apa yang sudah dialaminya pagi tadi. Lik Gareng yang memperhatikan dari meja sebelah ikut menyahut, “ Kalau aku memang sepakat dengan pakdhe Togog, lha kita ini kan tinggal diwilayah ini, dan semua instansi baik negeri maupun swasta memang harus diliburkan. Ini dengan SK Gubernur lho. Apalagi diwilayah dengan tingkat pemilih tradisioanl yang cukup tinggi kita harus dapat menjaga iklim yang kondusif. Karena rata-rata mereka kurang bisa berfikir secara rasional dalam menghadapi perbedaan.” Mas Petruk dan Mbah Semar sontak tergaket kaget. Bocah ora nggenah, tanpa ba bi bu langsung nyerocos, batin mas Petruk. Mas Petruk sambil menghela nafas mencoba memberi alibi, “ Lik Gareng, kita ini kan institusi yang langsung dibawah pemerintah pusat, dan kita juga diberi waktu untuk menyalurkan hak pilih. Padune lik Gareng kesal ta, karena tidak jadi punya waktu long weekend.” Mbah Semar tersenyum, belum sempat mengeluarkan pendapat lik Gareng kembali menyahut dengan berapi-api, “Oalah Truk truk, kamu itu jadi amtenaar (pns) baru berapa tahun sudah kemlinthi. Masalahnya kita itu ada diwilayah mana? Masih ingat pepatah dimana bumi diinjak, disitu langit dijunjung? Kita harus menghargai lingkungan dimana kita berada. Kita tinggal dimana mayoritas pemilih adalah pemilih tradisional yang notabene pola pikirnya tidak seperti sampeyan. Bahkan untuk memahami bahwa memilih itu adalah hak tidak berlaku bagi mereka. Apalagi kalau sampai jagonya kalah. Bisa-bisa semua hal akan menjadi sasaran kemarahan mereka.” Mbah Semar sudah tidak sabar mendengar pidato lik Gareng yang lebih berapi-api daripada jurkam. “Reng, apa kamu itu tim sukses salah satu calon ta?” Tanya mbah Semar. Mas Gareng agak tersinggung mendengarnya, “Mbah panjenengan jangan asal tuduh. Saya sampai saat ini memutuskan untuk tidak menggunakan hak pilih saya karena merasa tidak ada calon yang sesuai dengan harapan saya. Tapi saya khan tidak bisa memberikan pengertian tentang sikap saya kepada mereka. Jadi saya tetap datang ke TPS dan memasukkan kartu suara ke kotak suara. Toh mereka tidak tahu apa yang saya lakukan di bilik suara. Yang mau saya sampaikan adalah, bahwa meliburkan sebuah institusi sebesar tempat kita mengais rejeki ini adalah bentuk penghormatan bagi mereka. Tidak semata-mata memberikan waktu untuk menggunakan hak pilih, namun sebagai bentuk penghormatan atas pesta limatahunan yang sedang menjadi hajatan mereka. Dan bagi mereka tidak ada lagi kegiatan yang lebih penting dari itu kecuali Instalasi Gawat Darurat dan ICU Rumah Sakit. Bagi mereka, terlepas itu internasional atau regional, institusi kita ini tidak berbeda dengan sekolah-sekolah yang lain. Hanya jenjangnya adalah di atas SMA yang tidak akan mengatasi masalah darurat selama hari coblosan.”Demikian lik Gareng berargumentasi.

Mbah semar geleng-geleng kepala seperti kemasukan pil inex. Namun dalam hati dia bisa menerima eyelan dari lik Gareng. Kadang kita memang juga harus mempertimbangkan dampak sosiologis apabila mau mendeklarasikan hal berbeda dari mayoritas. Bukan karena takut berbeda, namun lebih pada mencoba memahami orang lain sebelum meminta orang lain memahami diri kita sendiri. Apalagi bila menghadapi mayoritas yang kurang dapat berfikir rasional. Mbah Semar melirik mas Petruk yang mengangguk-angguk. Nampaknya dia juga sepakat dengan ocehan lik Gareng.*

2 Responses to “PILKADA, libur atau tidak?

  • libur aja ya…

  • Mengundang secara spesial Anda admin Blog ini.
    UNS mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas aktivitas blogging Anda selama ini di staff.uns.ac.id untuk itu Tim Webometrics UNS memberikan special invitation untuk menghadiri Blog Conference sebuah rangkaian penutup dari UNS BlogFest 1.0 di Auditorium UNS tanggal 11-12 Mei 2010 jam 08.00 WIB secara gratis & sepesial untuk Anda.
    Acara ini akan menghadirkan unsblogfest.blog.uns.ac.id/blogger-conference/
    Setelah menerima Online Invitation ini, Anda di haruskan melakukan konfirmasi dengan mengisikan nama, alamat blog dan email pada comment di halaman unsblogfest.blog.uns.ac.id/konfirmasi-peserta-staffdosen-2/ sebelum tgl 6 Mei 2010

    Setelah melakukan konfirmasi, undangan secara fisik dapat di ambil tgl 10 Mei 2010 di Blog Center International Office UPT. Puskom UNS Lt. 2 pada jam 10.00 s.d 15.30 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar